9 Juli 2026 - 04:09
Perpisahan dengan Pemimpin Syahid adalah Manifestasi Kecintaan kepada Ahlulbait a.s. dan Kesetiaan kepada Jalan Wilayah

Penceramah Haram Suci Banou-ye Karamat menyebut Pemimpin Syahid sebagai teladan keutuhan dalam bidang keilmuan, pengenalan terhadap musuh, dan pembinaan diri. Ia mengatakan: “Kehadiran jutaan rakyat dalam upacara perpisahan dan prosesi pemakaman jenazah suci Pemimpin Syahid Revolusi merupakan manifestasi kecintaan kepada Ahlulbait a.s. dan kesetiaan kepada jalan wilayah.”

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Hujjatul Islam wal Muslimin Morteza Aghatehrani, dalam majelis keagamaan malam tadi di Haram Banou-ye Karamat, dengan merujuk pada ayat mulia «هَلْ یَسْتَوِی الَّذِینَ یَعْلَمُونَ وَالَّذِینَ لَا یَعْلَمُونَ» — “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” — menyatakan: “Al-Qur’an membedakan antara orang-orang yang memiliki ilmu dan pembinaan diri dengan mereka yang tidak memiliki sifat-sifat tersebut. Jihad dilakukan baik melawan musuh lahiriah, yaitu jihad kecil, maupun melawan musuh batiniah, yaitu jihad besar. Seseorang yang telah berjuang melawan hawa nafsunya akan mampu bertahan pula di medan pertempuran.”

Ia menyebut Pemimpin Syahid sebagai teladan keutuhan dalam bidang keilmuan, pengenalan terhadap musuh, dan pembinaan diri. Ia menambahkan: “Beliau berani dan penuh wibawa di hadapan musuh-musuh luar. Pada saat yang sama, beliau juga sangat menekankan pembinaan diri dan perjuangan melawan hawa nafsu. Amirul Mukminin a.s. dalam Nahjul Balaghah juga lebih banyak berbicara tentang jihad melawan nafsu dan ketakwaan daripada jihad melawan musuh luar, karena jihad besar lebih sulit dan lebih utama daripada jihad kecil.”

Penceramah Haram Suci itu, dengan merujuk pada hadis «النَّاسُ عَلَی دِینِ مُلُوکِهِمْ», mengatakan: “Masyarakat cenderung mengikuti agama dan jalan para raja serta pemimpin mereka. Jika para pemimpin berorientasi pada dunia, masyarakat pun akan menjadi pencinta dunia. Namun jika para pemimpin adalah ahli ibadah dan pembinaan diri, masyarakat pun akan bergerak ke arah spiritualitas. Pemimpin Syahid, melalui hidup sederhana dan sikapnya yang menentang gaya hidup aristokratik, menjadi teladan bagi masyarakat dan mengajak rakyat kepada pembinaan diri, keadilan, dan keteguhan.”

Aghatehrani, dengan merujuk pada ayat mulia «قُلْ لَا أَسْأَلُکُمْ عَلَیْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِی الْقُرْبَیٰ», menegaskan: “Kecintaan kepada Ahlulbait berarti cinta yang tampak dalam tindakan. Hari ini, ketika jenazah suci Pemimpin Syahid datang ke Qom untuk acara perpisahan, kehadiran jutaan rakyat dalam prosesi pemakaman menjadi contoh nyata dari kecintaan tersebut. Kehadiran ini memberikan pelajaran besar bagi musuh-musuh bahwa bangsa Iran berdiri teguh di sisi wilayah dan tidak akan pernah melepaskan cita-citanya.”

Di akhir pernyataannya, dengan merujuk pada jawaban Qasim bin Hasan kepada Imam Husain a.s., ia mengatakan: “Remaja berusia tiga belas tahun ini memandang kesyahidan di jalan Imam lebih manis daripada madu. Hari ini, para pemuda kita juga hadir di medan-medan perlawanan dengan semangat yang sama, dan mereka membawa kemuliaan serta kehormatan bagi negara.”

Your Comment

You are replying to: .
captcha